Home » Psikologi Saham » Bisnis Monyet dan Bos Besar Dari Kota

Bisnis Monyet dan Bos Besar Dari Kota

Bisnis Monyet dan Psikologi Saham

Cerita Monkey Business adalah cerita lama, pasti banyak yang udah pernah baca tentang bisnis monyet ini. Versi covid-19 berikut ini saya repost dari tulisan christianedbert di stockbit.com. Cerita bisnis monyet ini rasanya cocok buat kita baca lagi dalam kondisi market seperti sekarang. Saya tidak mau menyebut saham tertentu karena cuma bakal jadi ribut doang, biarkan waktu yang membuktikan. Enjoy dude…


Bisnis Monyet : Bos Besar Mau Beli Monyet

Ada sebuah desa di pinggir hutan yang ekonominya terguncang karena wabah covid-19, banyak warganya yang terpaksa rebahan di rumah karena bisnisnya sepi atau terpaksa WFH (Work From Home).

Suatu hari datang orang dari kota, dia memperkenalkan diri sebagai Asisten Bos Besar. Dia datang berkunjung karena mau beli monyet yang ada di hutan dekat desa.

Bos Besar adalah kolektor monyet dan bersedia membeli 100 ekor monyet dengan harga 100 ribu per ekor. Minggu depan dia akan datang mengambil monyet tersebut.

Warga desa melihat peluang, di hutan dekat desa banyak sekali monyet, toh mereka banyak waktu senggang juga karena pandemi covid-19. Gampang menangkap monyet, cuma perlu modal pisang dan jebakan kayu.

Seminggu kemudian Asisten Bos Besar datang lagi, dia ambil 100 monyet yang berhasil ditangkap warga desa. Asyik, dude.

Kemudian dia bilang, “Bos Besar mau lebih banyak monyet, kali ini dia mau beli 200 ekor monyet seharga 200 ribu.”

Makin banyak warga yang ikut menangkap monyet. Easy money, dude!

Bisnis Monyet : Easy Money

Seminggu kemudian Asisten Bos Besar datang lagi, dia senang ada 200 ekor monyet dan membayar sesuai perjanjian yaitu 200 ribu per ekor.

Asisten Bos Besar senang sekali, dia bilang lagi, “Bos Besar mau lebih banyak monyet, kali ini bos akan bayar 500 ribu untuk tiap ekor monyet.”

Seminggu berlalu, Asisten Bos Besar datang lagi ke kampung itu. Tapi dia kecewa bukan main, warga desa cuma berhasil menangkap 50 ekor monyet.

“Wah dude, kenapa cuma segini? Padahal Bos Besar udah naikin harganya… Kalo gini dia bakal kecewa,” katanya.

Kepala desa jawab, “Sorry bos, monyetnya habis, dua minggu ini sudah kami tangkap banyak sekali.”

Dengan berat hati Asisten Bos Besar bisa mengerti alasan Kepala Desa. Dia bilang lagi kepada semua warga desa, “Bos Besar masih mau beli monyet, kali ini beliau berani bayar 1 juta tiap ekornya. Tolong tangkap sebanyak mungkin monyet.”

Sekeras apa pun warga mencari monyet di hutan, selama dua hari mereka cuma berhasil menangkap tiga ekor.


Suka artikel ini? Masukkan email untuk mendapatkan artikel terbaru via email. NO SPAM.


Harga Monyet Naik Terus : Makin Serakah

Kepala Desa punya ide, gimana kalo warga patungan beli monyet dari penangkaran monyet saja. Kepala Desa dan beberapa perwakilan warga datang ke penangkaran monyet di desa seberang sungai. Wah ternyata banyak monyet di sini…

Kepala desa tanya ke petugas penangkaran “Dude, kami mau beli semua monyetmu, berapa duit?”

Petugas penangkaran jawab, “Kami punya 350 ekor monyet, tapi monyet-monyet ini udah dipesan sama orang kaya dari kota, harganya 500 ribu/ekor.”

Kepala Desa nawar, “Jangan dijual ke mereka, biar kami saja yang beli 600 ribu per ekor.”

Mendengar ucapan itu, seorang warga yang ikut berbisik, “Pak Kades, kita ga punya uang sebanyak itu, bisnis dan kerjaan kita lagi lesu.”

“Jangan khawatir, pinjam sama mertuamu, gadaikan rumah, apply pinjaman online. Minggu depan kita lunasi semua,” jawab Pak Kades dengan yakin. Warga pun akhirnya setuju. Tergiur dengan janji Bos Besar akan membeli berapa pun monyet yang mereka punya seharga 1 juta per ekor, rupanya telah membuat mereka menjadi serakah.

Setelah berunding dengan temannya selama beberapa menit, petugas penangkaran setuju menjual semua monyetnya – 350 ekor monyet seharga 600 ribu per ekor.

Kepala desa pulang dengan beberapa truk berisi monyet. Warga menyambut dengan sangat meriah. Dengan senyum lebar dia cerita, “Untung petugas penangkaran bodoh, dia ga tau harga monyet udah naik jadi 1 juta. Minggu ini kita bakal pesta! Nanti kita minta harga monyet naik jadi 2 juta trus kita beli monyet di penangkaran di desa yang lain.”

Warga desa senang sekali, ada yang buat chart harga monyet, ada yang hitung nilai intrinsik monyet, ada yang mempelajari pola transaksi Asisten Bos Bandar, ada yang mulai hitung return investasi jualan monyet sepuluh tahun ke depan, pokoknya bermacam-macam. Mereka semua sepakat kalo bulan depan harga monyet adalah 5 juta per ekor. Mereka semua sekarang mulai yakin bahwa semua warga desa akan kaya raya karena jualan monyet.

Gigit Jari

Seminggu berlalu.

Asisten Bos Besar tidak pernah datang lagi.

Warga desa mulai kebingungan.

Ada yang pusing karena harus bayar utang, beras sudah hampir habis sementara uang beras udah jadi monyet. Ada yang rumahnya terlanjur digadaikan.

Mereka cuma punya ratusan ekor monyet yang berisik dan makan dengan rakus tiap hari.

Hanya ada satu orang yang hidup tenang, dia adalah si bodoh yang gak ikutan tangkap monyet. Sejak minggu pertama dia fokus pelihara ayam dan makan telur.

Sementara Asisten Bos Besar dan Petugas Penangkaran telah pergi ke luar pulau. Mereka mulai perjalanan lagi, mencari monyet di desa yang baru.


Bagaimana portofolio anda, dude? Apa isinya monyet atau ayam?

Ada komen, dude?