It Is Not Greed That Drives The World, But Envy

It is not greed that drives the world, but envy.

Untuk menghindari keraguan, tulisan ini bukan pompom emiten ENVY 🤦‍♂️. Tulisan ini akan membahas tentang psikologi saham.

Envy yang saya maksud adalah iri hati. Ya, pelaku pasar saham sering merasakan ini. Apalagi kondisi seperti sekarang, saat pasar sangat optimis cenderung euforia.

Tidak hanya di Indonesia tapi di banyak negara. NASDAQ dari titik terendah bulan Maret 6631.42 sekarang sudah rebound ke 11695.63, naik sekitar 30.35% YTD atau 76.37% dari titik terendahnya. Robinhood pun jadi tenar saat ini.

IHSG masih agak lebih “waras”. IHSG YTD masih minus sekitar 13.21% tetapi sudah naik dari terendahnya 3911.72 menjadi 5346.66 atau naik 36.67%.

Saham-saham yang berkinerja kurang baik pun naik. Saham gorengan juga banyak yang naik. Kita tahu misalnya bagaimana saham Hertz yang sedang PKPU, sahamnya justru meroket sampai akhirnya Hertz memutuskan mengeluarkan saham baru untuk melunasi sebagian utangnya.


Suka artikel ini? Masukkan email untuk mendapatkan artikel terbaru via email. NO SPAM.


Sana Pamer Cuan, Sini Pamer Cuan

Hal yang sama bisa kita lihat di IHSG. Tidak sedikit saham yang naik berlipat-lipat, saya tidak menemukan alasan yang logis. Bisa jadi saya yang kurang pintar atau missed sesuatu.

Psikologi Saham : Envy
Psikologi Saham : Envy

Kalau anda aktif mengikuti komunitas saham seperti Stockbit, group saham seperti Telegram atau Whatsapp, pasti tiap hari ada yang pamer cuan kotos kotos. Terlihat mudah sekali cari cuan jaman sekarang. Akibatnya, ada saja yang tidak tahan, FOMO, dan akhirnya ikut-ikutan,…. karena iri. Secara psikologi, tentu ini akan mengganggu. Padahal kita tahu, dalam investasi saham selain skill dan modal, yang berperan adalah psikologi saham.

Kalau ternyata benar cuan terus, maka tulisan ini mungkin buat anda 😜 Tapi kalau ada yang galau, mulai gerah liat kiri kanan cuan semua, atau ada yang sudah ikut tapi berakhir naas…. tulisan ini bisa jadi membantu anda.

Apa sebaiknya yang kita lakukan?

Jadi apa yang harus kita lakukan? Apakah ikut mood pasar? Wait and see? Atau iseng-iseng ikutan?

Mungkin beberapa kutipan tentang psikologi saham dari beberapa super investor berikut bisa membantu :

“Investing isn’t about beating others at their game. It’s about controlling yourself at your own game.”

Benjamin Graham

Dari Graham kita belajar, bahwa investasi saham bukan tentang mengalahkan orang lain, melainkan tentang bagaimana kita mengontrol diri sendiri, dengan cara kita sendiri.

“It is not greed that drives the world, but envy.”

Warren Buffett

“Envy is a really stupid sin because it’s the only one you could never possibly have any fun at. There’s a lot of pain and no fun. Why would you want to get on that trolley?”

Charlie Munger

Iri adalah perbuatan dosa yang paling bodoh yang bisa kita lakukan, kata Munger. Gak ada enaknya, bandingkan dengan “dosa” lain misalnya mencuri atau korupsi, masih bisa kaya #eh… Lah iri? Tajir ngga, senang ngga, malah cuman bisa dongkol dan sakit hati sendirian 🤦‍♂️.

Cara Terbaik Menghindari Rasa Iri

Sebagai penutup, dua kutipan berikut ini yang bagi saya salah satu solusinya.

“The best way to avoid envy, recognized by Aristotle, is to plainly deserve the success we get.”

“Best way to get what you want in life is to deserve what you want. The world is not yet a crazy enough place to reward a whole bunch of undeserving people.”

Charlie Munger

Ya, cara terbaik menghindari rasa iri di bursa saham adalah dengan menjadikan kesuksesan adalah sesuatu yang sudah sepantasnya kita raih.

Misalnya kita iri karena si A bisa beli saham XXXX 500 dan jual dengan harga 1000 atau cuan 100% hanya dalam waktu singkat.

Coba tanya diri sendiri, “Apa gw udah pernah riset XXXX? Apa gw tau waktu harga XXXX di 500 itu undervalue dan wajarnya di 1000?”

Jika jawabannya tidak, maka sebetulnya tidak ada alasan kita untuk iri, memang kita belum pantas untuk cuan tersebut.

Apakah anda iri kalau ada kenalan menang lotere? Tentu tidak.

Apa hubungannya? Ada.

Kalau anda tidak tahu kenapa saham XXXX naik 100%, maka sama seperti lotere, seharusnya tidak perlu iri. Karena dalam kedua kasus tersebut, anda sama-sama tidak tahu alasannya, bagaimana mungkin anda tahu cara “memenangkannya”?

Bias from envy/jealousy

Kalau kita “iri” cuan 100% maka cara terbaik adalah menjadikan diri kita sebagai orang yang pantas dan layak mendapatkannya. Misalnya lakukan apa yang kita bisa dengan mempertajam analisis, meluangkan lebih banyak waktu riset, mencari dan membaca sebanyak mungkin potensi cuan di berbagai emiten.

Penutup

Untuk menghindari keraguan, saya tidak bilang yang cuan saat ini hanya mereka yang beruntung saja. Mereka yang sudah mengerjakan PR-nya sangat mungkin menikmati jerih payahnya saat ini. Saya juga tidak mengatakan sekarang bukan saatnya membeli saham. Yang saya tekankan adalah membeli saham sekarang hanya karena ikut-ikutan, terlebih dasarnya adalah karena iri melihat banyak yang pamer cuan. Merasa cupu sendirian.

Mindset seperti ini tidak hanya berlaku untuk investasi saham tapi dapat diterapkan pada berbagai bidang termasuk keseharian. Gunanya adalah agar kita bisa hidup lebih happy dan terhindar dari rasa sakit atau marah. Kita juga secara psikologi terhindar dari potensi bertindak impulsif, bias, tidak rasional, dan akhirnya merugikan diri sendiri.

10 thoughts on “It Is Not Greed That Drives The World, But Envy

  1. Cukup menyejukkan Om. Hampir setahun saya di bursa, 2 bulan terakhir memang sering lihat yang pada cuan2.. lalu melihat overall porto saya baru Agustus ini positif 4%-an. Karena saya nyicil per bulan dari sebagian kecil gaji. Rasanya memang jadi pengin ikut2an. Sepertinya perlu menebalkan mental diri.
    Keep posting Om.

  2. baru sempet mampir bang bro,,,, abis baca ini makin dpt alesan jd Preman pensiun cuk kec ada yg sawerin ana comeback=====pamer cuanya

    Kabooor

  3. wkwkkw ribet jg reply komen di blog,, gaptek neh

    di kasi saweran ma ga nolak cuk,, nah gitu dong bantuin temen.. nih kasiin no
    rek gw bca 816.8008.6969 perkepala cetiau aje,, kamsia cuk

Ada komen?