Kategori
Psikologi Saham

Peter Lynch : When You Sell in Desperation, You Always Sell Cheap

Abis CL (Cut Loss), eh asem sahamnya terbang. Ada yang pernah ngalamin begini? Saya pernah… beberapa kali. #SakitnyaTuhDiSini.

“When you sell in desperation, you always sell cheap” – Peter Lynch


Abis CL (Cut Loss), eh asem sahamnya terbang. Ada yang pernah ngalamin begini? Saya pernah… beberapa kali. #SakitnyaTuhDiSini…

Kenapa bisa gitu ya?

When You Sell in Desperation, You Always Sell Cheap

Salah satu alasannya seperti yang dikatakan Peter Lynch. Kalo hanya FL (Floating Loss) tipis-tipis, kita masih berani hold, tapi kalo udah double digit, akhirnya gak tahan : BUKI ajalah!

Padahal, bisa jadi saat kita jual itu adalah saat harga saham tersebut sangat murah. Karena posisi FL tebal, liat saham lain ijo-ijo, temen-temen pada pamer cuan, akhirnya kita jual saham kita justru di saat sahamnya sedang super bargain. Yang kena mental kita, dude.

Biasanya, saat pasar galau dan porto merah, kita jadi pengen “do something”. Alasan jual saat kondisi seperti ini yang tersering bukan lagi alasan fundamental, sadar thesis salah, atau alasan logis lainnya… melainkan karena galau dan duit terbatas tapi pengen do something. Pengen jual aja yang posisi FL dan beli saham yang lain… berharap nanti naik cepet. Mendadak merasa mampu timing the market. Padahal pas kita jual, saham tersebut pas pada posisi udah bener-bener murah.

Tindakan irasional ini juga yang menyebabkan return investasi kita tidak optimal, seperti telah saya tulis pada artikel sebelumnya : Kenapa Return Investasi Rata-Rata Investor Ritel Buruk?

Keinginan do something atas dasar yang tidak jelas, justru sebaiknya kita hindari. Menurut Jack Bogle, “Don’t do something; just stand there!” adalah tindakan yang lebih bijak. Ketimbang langsung ambil tindakan yang gegabah, adalah bijak untuk “don’t do something” dan pikir ulang terlebih dahulu ketika menghadapi pasar yang sedang labil.

“While the interests of the business are served by the aphorism ‘Don’t just stand there. Do something!’ the interests of investors are served by an approach that is its diametrical opposite: ‘Don’t do something. Just stand there!'”

Jack Bogle

Alokasi Aset Portofolio Dengan Benar

Salah satu cara yang bisa kita tempuh untuk menghindari galau dan CL tidak pada waktunya adalah dengan menyusun portofolio dengan benar. Jangan taruh seluruh harta dalam satu keranjang, tapi diversifikasi dengan baik. Jangan sampai ada saham dengan porsi terlalu besar. Ingat juga untuk selalu sediakan dry powder yang cukup.

“Your gut reaction is to sell. That is probably because you don’t have your allocation set correctly.”

Clarity Financial Director of Financial Planning Richard Rosso
Allocating assets the right way is important. Sumber : Guru Focus

Kesalahan Lain : Selling Your Winners and Holding Your Losers

Kesalahan umum lainnya yang sering kita lakukan sebagai investor saham adalah seperti kutipan dari Peter Lynch berikut : “Selling your winners and holding your losers is like cutting the flowers and watering the weeds.”

Warren Buffett pernah menggunakan kutipan Peter Lynch tersebut pada salah satu Annual Letters-nya.

o In 1988 we made major purchases of Federal Home Loan
Mortgage Pfd. (“Freddie Mac”) and Coca Cola. We expect to hold
these securities for a long time. In fact, when we own portions
of outstanding businesses with outstanding managements, our
favorite holding period is forever. We are just the opposite of
those who hurry to sell and book profits when companies perform
well but who tenaciously hang on to businesses that disappoint.
Peter Lynch aptly likens such behavior to cutting the flowers and
watering the weeds. Our holdings of Freddie Mac are the maximum
allowed by law, and are extensively described by Charlie in his
letter. In our consolidated balance sheet these shares are
carried at cost rather than market, since they are owned by
Mutual Savings and Loan, a non-insurance subsidiary.

Warren Buffett Annual Letter 1988

Ini sepertinya kebalikannya ya? Tadi katanya jangan CL, lah ini kok malah nyuruh CL?

Bisa ya, bisa tidak. Tergantung alasannya. Perilaku ini berawal dari sifat manusia yang risk averse. Karena risk averse, begitu melihat sahamnya udah FP (floating profit), langsung cepat-cepat jual. Padahal, seharusnya cek dulu, jangan-jangan – walau udah FP – harga wajar saham tersebut masih jauh lebih tinggi?

Sebaliknya, karena risk averse, tidak sedikit yang bertahan memegang saham yang salah.. the losers. Karena tidak mau rugi, tetap hold terus… sampai akhirnya FL makin dalam akhirnya gak tahan dan justru merealisasikan kerugian pada level yang sangat merugikan.

Jadi gimana sebaiknya? Kapan waktu terbaik untuk menjual saham, dude?


Suka artikel ini? Masukkan email untuk mendapatkan artikel terbaru via email. NO SPAM.


When To Sell

Seperti tulisan sebelumnya Investasi Saham Untuk Pemula, berikut ini beberapa alasan yang logis when to sell your stocks.

Alasan Rasional Menjual Saham


Saat yang tepat untuk menjual saham anda adalah ketika :

  1. Harga pasar telah jauh di atas harga wajar. TP (Take Profit), hal yang sangat didambakan setiap investor. Congrats!
  2. Jika di tengah jalan ada fakta baru yang tidak sesuai asumsi awal, FA memburuk, dan harga wajarnya sekarang jauh di atas harga pasar. Bisa TP bisa CL (Cut Loss), pokoknya SELL karena sudah tidak sesuai lagi. Di sinilah pentingnya memiliki catatan rapi tiap emiten. Jangan andalkan ingatan, karena anda bisa lupa. Kalau semuanya dicatat rapi, anda bisa baca ulang catatan anda sendiri. Dengan demikian, anda jadi lebih rasional, konsisten, dan tidak mudah bimbang.
  3. Tidak disarankan terlalu sering kita lakukan : Karena ada kesempatan yang lebih baik di aset lain.

Selain ketiga alasan tersebut, tidak ada alasan rasional untuk menjual saham. Tetap hold saja saham anda sambil belajar bersabar, ikuti terus perkembangan emiten secara berkala dan update catatan anda. Ketika anda terpikir untuk menjual saham selain ketiga alasan di atas, ingat saja kutipan dari Peter Lynch : “When You Sell in Desperation, You Always Sell Cheap.”


Ada yang pernah CL dalem, GPL (Gak Pake Lama) sahamnya langsung ARA? Atau ada yang udah lewati masa unyu-unyu ini? Ada tipsnya gak dude? Share pengalaman dan tips ente di kolom komentar.

2 tanggapan untuk “Peter Lynch : When You Sell in Desperation, You Always Sell Cheap”

Baru gabung saham di era corona. Pernah punya BFIN di harga 280 an. Saya belinya waktu downtrend. Saya jual di harga 284-290, karena saya kira saya bisa dapat lebih murah lagi, ternyata nggak lama setelah itu malah naik dan saya nggak berani masuk lagi. Saya dapet pelajaran dan sekarang nggak mau jual saham murah untuk dapat lebih murah lagi. Thanks tulisannya.

Thanks udah mampir dan sharing pengalamannya. Iya betul, timing the market itu sulit sekali. Lebih sering kena gocek ya 😀 Semoga makin sukses ke depan dude.

Balas

Ada komen, dude?