Kategori
Investasi Saham

Buy Commodities Sell Brands : 4 Kata Kunci Bisnis Sukses

Buy commodities, sell brands. Formula bisnis yang disukai Warren Buffett ini telah menghasilkan return luar biasa bagi pemegang saham Berkshire Hathaway, contohnya investasi BRK di Coca Cola dan Wrigley.

“Buy commodities, sell brands,” tulis Warren Buffett dalam annual letter tahun 2011. Formula bisnis yang sederhana ini telah sukses mendatangkan return yang luar biasa bagi pemegang saham Berkshire Hathaway, sebut saja dari investasinya di Coca Cola, Wrigley, dan See’s Candy.

“Buy commodities, sell brands” has long been a formula for business success. It has produced enormous and sustained profits for Coca-Cola since 1886 and Wrigley since 1891.

On a smaller scale, we have enjoyed good fortune with this approach at See’s Candy since we purchased it 40 years ago. Last year See’s had record pre-tax earnings of $83 million, bringing its total since we bought it to $1.65 billion. Contrast that figure with our purchase price of $25 million and our year end carrying-value (net of cash) of less than zero.

Warren Buffet, Berkshire Hathaway Annual Letter 2011

Alasan Buy Commodities Sell Brands Formula Bisnis Sukses

Pada dasarnya, “buy commodities, sell brands” adalah beli bahan baku dengan harga murah, olah dan beri nilai tambah, tempel merek berkualitas, dan jual produk bermerek tersebut dengan harga lebih tinggi. Yang pelanggan lihat adalah produk dengan merek berkualitas. Karena merek adalah jaminan mutu.

Ada beberapa alasan mengapa buy commodities, sell brands (beli komoditas, jual merek) dapat mendatangkan return yang baik bagi pemegang sahamnya.

Price Taker vs Price Maker

Produsen barang bermerek adalah price maker. Bedakan dengan produsen komoditas (seperti produsen batu bara, minyak, dan mineral) yang umumnya adalah price taker. Produsen komoditas tidak dapat menentukan harga jual, mereka hanya bisa menerima berapa pun harga pasar saat itu. Karena tidak ada nilai tambah komoditas, batu bara misalnya, sama saja selama kandungan kalorinya sama. Minyak ya sama saja, tidak ada bedanya minyak produsen A dan B. Maka setiap produsen komoditas mau tidak mau harus menerima dan menjual pada harga pasar saat itu, berapa pun harganya. Jika tidak, pembeli dengan mudah pindah ke produsen lain.

Berbeda dengan produsen barang bermerek. Mereka dapat menentukan harga jual dan mentransfer kenaikan harga baku serta kenaikan biaya operasional lainnya kepada pelanggan. Semakin baik branding dan reputasi merek tersebut, semakin mudah bagi produsen mentransfer seluruh komponen biaya masuk ke dalam harga jual produk tersebut.

Karena hal ini, maka biasanya margin laba produk bermerek sangat baik dan konsisten. Berbeda dengan produsen komoditas yang adalah price taker, margin labanya tidak konsisten, siklikal, dan pada masa sulit dapat menderita kerugian.

Kenapa Saham Consumer Brands Biasanya (Terlihat) Mahal?

Biasanya, belanja modal aset tetap dikapitalisasi. Misalnya emiten investasi mesin produksi, karena masa manfaat ekonomisnya panjang, maka biaya ini dikapitalisasi dan dibebankan tiap periode melalui depresiasi. Artinya tiap kali emiten belanja aset, aset tersebut dikapitalisasi selama beberapa lama sampai habis masa manfaat ekonomisinya. Aset tersebut ada di Neraca dan termasuk dalam Book Value yang anda hitung. Baca selengkapnya tentang ini : Depresiasi Aset Tetap : Analisis Fundamental.

Apa bedanya dengan emiten consumer brands? Bedanya adalah emiten consumer brands biasanya selain investasi barang modal seperti tanah, pabrik, dan mesin produksi, mereka juga mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk : iklan dan promosi. Inilah perbedaannya. Iklan dan promosi termasuk beban operasional. Bukan biaya, tidak ada kapitalisasi dalam iklan dan promosi, melainkan langsung “hangus” tiap periode. Padahal, salah satu tujuan utama iklan adalah branding. Brand emiten nempel di pikiran kita untuk waktu yang lama.

Ada yang masih ingat iklan-iklan produk bermerek bertahun-tahun yang lalu? Ada yang sadar gak sadar pas mau belanja produk tertentu yang terpikir (top of mind) merek A bukan yang lain? Ini efek iklan dan branding, dan ini tidak tercatat di Laporan Keuangan. Beban iklan tersebut tidak termasuk dalam Book Value, malah sebaliknya karena termasuk beban pada Laporan Laba Rugi, maka akan mengurangi laba dan pada akhirnya mengurangi ekuitas.

Jika anda fans valuasi saham menggunakan PBV (Price to Book Value), bisa jadi anda selalu kecewa karena melihat kok mahal-mahal ya? Jelas alasannya, karena ada yang mencatat (kapitalisasi) seluruh biaya menjadi aset (biasanya aset tetap), ada yang langsung dibebankan tiap periode (tidak tercatat dalam Neraca).


Suka artikel ini? Masukkan email untuk mendapatkan artikel terbaru via email. NO SPAM.


Buy Commodities Sell Brands : Contoh Kasus UNVR dan MERK

Masih ingat aksi korporasi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Merck Tbk (MERK) tahun 2018? UNVR divestasi bisnis spreads dan MERK divestasi bisnis Consumer Health.

Contoh Pertama : Divestasi Bisnis Consumer Health MERK

MERK Divestasi Bisnis Consumer Health kepada P&G. Sumber : Laporan Keuangan 2018 MERK

Pada tahun 2018, MERK divestasi bisnis Consumer Health ke P&G dan mencatat laba sekitar Rp 1.36T. Padahal saat itu, seperti bisa anda lihat, aset divisi Kesehatan Konsumer Rp 237M, liabilitas Rp 151M, maka ekuitas (Book Value) hanya Rp 86M (237M – 151M). Tapi P&G mau membelinya sekitar Rp 1.38T.

Contoh Kedua : Divestasi Bisnis Spreads UNVR

Penjualan bisnis spreads UNVR mencakup aset tak terwujud, yaitu hak mendistribusikan produk dengan merek dagang global Frytol, Blue Band Master, dan Blue Band. Termasuk juga penjualan merek dagang lokal, yakni Minyak Samin dan Blue Band Gold.

UNVR Divestasi Bisnis Spreads kepada KKR. Sumber : Laporan Keuangan 2018 UNVR

Seperti anda lihat, nilai buku asetnya Rp 175M. Tapi UNVR sukses menjual seluruh bisnis spreadsnya kepada KKR senilai nyaris Rp 3T dan mencatat keuntungan dari divestasi Rp 2.67T.

Jadi memang kurang tepat jika kita valuasi saham konsumer dengan hanya melihat BV. Akan lebih mudah kita pahami kenapa P&G dan KKR rela bayar premium, kalau kita lihat penjualan dan laba bisnis kesehatan konsumer MERK dan bisnis spreads UNVR. Berapa penjualan dan laba masing-masing unit bisnis tersebut? Bisa lihat Laporan Keuangannya kalau berminat. Saya sengaja tidak tulis, biar ada bahan bagi yang penasaran 😀

Top 100 Most Valuable Global Brands 2020

Hanya sebagai gambaran, berikut ini daftar global brands dengan valuasi termahal di dunia menurut BrandZ.

Penutup

Menurut Warren Buffett, salah satu bisnis yang mampu mencetak keuntungan secara berkelanjutan adalah bisnis “Buy Commodities, Sell Brands”. Selain pasar biasanya memang menghargai sektor produk bermerek ini premium, tapi ada juga faktor pengakuan akuntasi yang membuat saham konsumer bermerek terlihat mahal.

Sebagai penutup, ingat juga seperti yang saya tuliskan di artikel sebelumnya Charlie Munger Checklist For Picking A Company To Invest In, Munger mengatakan sebagus apa pun bisnis perusahaan, tidak ada yang layak dihargai dengan harga/valuasi yang tak terbatas.

And finally, no matter how wonderful it is, it’s not worth an infinite price. So we have to have a price that makes sense and gives a margin of safety, given the natural vicissitudes of life.

Charlie Munger

References and Credits

  1. Berkshire Hathaway Annual Letter 2011
  2. BrandZ Top 100 Most Valuable Global Brands 2020
  3. Image credit : Fortune Conferences – Flickr

OK dude, sekian. Jangan lupa share, komen, dan dukung axlarry.com kalo suka artikel investasi saham di blog ini.

Nah, di Bursa Efek Indonesia, emiten apa saja yang model bisnisnya “Buy Commodities, Sell Brands” seperti yang dimaksud Warren Buffett, dude?

Ada komen, dude?