Kategori
Psikologi Saham

Psikologi Saham : Investasi Saham Adalah Meredam Emosi

Dalam investasi saham setidaknya kita membutuhkan tiga hal : modal, skill dan psikologi saham. Tulisan kali ini mau ngomongin yang terakhir, psikologi saham.

Dalam investasi saham setidaknya kita membutuhkan tiga hal : modal, skill dan psikologi saham. Tulisan kali ini mau ngomongin yang terakhir, psikologi saham.

Seperti kita tau terakhir ini bursa saham rame gara-gara merger BRIS, BNIS, BSM, jadi Bank Syariah BUMN (Bank Amanah).

Gw nulis ini karena di berbagai komunitas saham seperti Stockbit, grup telegram, bahkan media… rame sekali bahas BRIS terus. Bahkan lucunya barusan aja ada grup telegram Sangkuters BRIS.

Apa yang aneh sih dude?

Ya aneh sekali, apalagi lihat yang marah-marah, maki-maki, sampe sibuk berat counter semua postingan yang dianggap membully saham idolanya.

Lu panas gara-gara saham idaman lu dibuli?

Dude…. kapan dewasanya kalian? Yang ribut-ribut ini sudah hampir pasti pemula. Emang ngapain lu ribut sih? Kalo emang yakin sama saham lu, ngapain panas? Biasa aja dude…

Tunggu beberapa tahun lagi, pasti ketawa malu sendiri lu liat kelakuan lu sekarang… Itu kalo beberapa tahun lagi lu dewasa. Lama di bursa tidak menjamin kedewasaan juga. Seperti iklan rokok jaman dulu “Tua itu pasti, dewasa pilihan.”

Beberapa Poin Tentang Psikologi Saham

Pertama, kalo memang lu yakin ini BRIS wajarnya jauh di atas, harusnya lu santai aja ga perlu panik. Tapi lu panik? Artinya lu sendiri gak yakin. Lu gak yakin tapi sok yakin, gak mau berpikir ulang dan gali lebih dalam. Yang lu mo denger hanya yang positif, gak mau yang lain. Ini namanya confirmation bias, dude.

Kedua, sebagian besar gak berhitung apa-apa, hanya modal baca berita sepotong, pokoknya rame… ikut aja. Awalnya berharap cuan cepat, tapi gak rela salah, pokoknya gak mau tau gw harus cuan! Dude, emang riset lu udah sedalam apa? Berapa banyak waktu dan pikiran lu habiskan sebelum mutusin klik BUY? Kok bisa-bisanya yakin banget gak salah?

Sebagai tambahan, tidak ada yang tidak pernah salah di dunia investasi saham, bahkan super investor pun pernah salah. Bisa dan berani mengakui kesalahan adalah langkah besar dalam investasi. Secara psikologi saham lu udah lebih matang.

Ketiga, gak mungkin lu tau 100% tentang suatu saham, potensinya, dan semua-muanya. Selalu ada unknowns. Di saham juga ada hidden information dan luck, dua hal yang di luar kendali kita. Baca Value Investing : Hidden Information, Luck, and Skill lebih jelasnya.

Keempat, sebelumnya gw udah pernah tulis tentang penjual Stockpick (Baca : Investor Saham Aktif Tapi Nyari Rekomendasi Saham?). Nah, sebaiknya kita juga jangan langsung termakan dengan pompom seseorang. Karena, sudah bisa dipastikan mereka yang pompom ada kepentingan. Sangat mungkin mereka sudah punya sahamnya dan berharap dengan pompom, harga sahamnya terkerek dan mereka bisa jual di harga tinggi.

Kalo gw, gw ga akan bahas detil saham yang menurut gw “bagus”. Kenapa? Karena bisa nambah saingan, dude. Apalagi kalo volume kecil. Maka biasanya ane ga bahas. Jadi sebaiknya ente juga paham kebanyakan orang begini. Kalo doi pompom saham, apalagi yang busuk, bisa dipastikan ada kepentingan.


Suka artikel ini? Masukkan email untuk mendapatkan artikel terbaru via email. NO SPAM.


Apa gw yakin BRIS pasti turun terus?

Gak juga… market gak bisa ditebak. Jadi keliru juga kalo mikir gw yakin ini pasti turun terus. Bisa aja digoreng terus, ga ada yang tau. Ingat kata Keynes.

Markets can stay irrational longer than you can stay solvent.

Maynard Keynes

Batu akik tahan berapa lama? Ikan lohan, bunga mahkota? Janda bolong? Jadi namanya irasional itu gak berarti cuman sebentar, bisa lama. Bisa seminggu, berbulan-bulan, bahkan bisa bertahun-tahun.

Sama halnya dengan bursa saham, ada dan bakal selalu ada aja saham yang anomali.

Lah kalo bertahun-tahun, sempet cuan dong dude? Berarti boleh ikut kita, kenapa menghindar? Pasti ada yg mikir gini, betul?

Di sinilah yang membedakan. Kalo mau survive (dan cuan konsisten) lu harus bisa tetap waras. Ya betul, irasional bisa ada bertahun-tahun… tapi kan lu gak tau? Range-nya bisa beberapa hari sampe beberapa tahun. Berapa lama yang kali ini?

Apa Yang Sebaiknya Kita Lakukan?

Yang gw tau, kalo tindakan itu irasional, satu saat akan ada koreksi dan orang-orang sadar itu tindakan dungu. Maka tindakan yang benar adalah memilih selalu waras. Apa pun informasinya, harus dicek dan ricek terlebih dahulu. Kalo lu anggap sesuatu itu irasonal, terlalu mahal, di luar lingkaran kompetensi, dan sebangsanya, lewatkan saja. Anggap aja bukan rejeki.

Dan ini kabar suka citanya : tanpa ikutan sinting, investasi saham menjanjikan return yang bagus. Justru mereka yang konsisten cuan adalah mereka yang bisa selalu berusaha rasional, bukan sebaliknya.

When experienced investors frown on gambling with price fluctuations in the stock market, it is not because they don’t like money, but because both experience and history have convinced them that enduring fortunes are not built that way.

Thomas Phelps

Ingat sekali lagi, gak ada jaminan besok BRIS ARB lagi. Bisa sebaliknya. Kita gak pernah tau. Jadi gw bukan klaim jadi dukun, yakin besok ARB. Tapi gw yakin valuasi BRIS saat ini terlalu mahal dan gak layak dibeli. Dan bisa saja gw yang salah, ternyata masa depan BRIS cerah. Tapi untuk saat ini, gw gak mampu liat itu, maka gw lewatkan.

Kenapa ini penting? Woiya jelas… buat gw penting untuk tau ini. Salah satunya biar lu ga galau, ada saham kemahalan kok masih naik terus? Jangan-jangan salah gw nih sok mindset investasi?

Lho, memang investor itu bukan menebak pergerakan harga saham jangka pendek, justru lu 100% mengamini bahwa otak lu ga sanggup untuk menebak pergerakan jangka pendek itu. Karena itulah lu pake pendekatan nilai wajar. Dengan keyakinan, suatu saat harga pasar akan mendekati nilai intrinsiknya. Fokus mencari dan hanya membeli saham denga harga pasar jauh lebih rendah dari nilai wajar saham tersebut adalah tugas utama investor saham

Kalo lu rasa bisa memprediksi pergerakan saham (jangka pendek) maka jadilah trader. Kalo lu hands up, lambaikan tangan ke kamera, coba pendekatan lain. Value investing itu konsepnya simple : beli apa pun yang di bawah nilai wajarnya, dan satu saat lu bisa dapat lebih dari harga yg lu bayar.

Penutup

Jadi dengan tulisan ini gw mo menyarankan untuk mereka yang sibuk bela sahamnya, sampe maki-maki, posting netral pun dibilang buli, gak bisa lagi terima masukan, apalagi eksmoksi dan kebawa mimpi. Berhentilah.

Apa tindakan counter setiap postingan bisa merubah harga saham? Yaelah, emang kemampuan ritel angkat/banting saham seberapa sih?
Apa bisa merubah kinerja emiten dengan mati-matian belain saham lu? Gak bisa.
Apa lu tambah pinter di saham? Nggak. Karena lu menolak setiap masukan. Super bias. Gak ada ilmu baru yang bisa masuk.

Jadi apa gunanya? Gak ada. Yang ada lu malah tambah emosi. Padahal di saham, selain modal dan skill, yang juga lu butuhkan adalah psikologi saham agar tetap bisa rasional.

Ini sejarah selalu berulang, gak ada yang aneh. Kalo lu udah cukup lama di bursa dan masih kena terus yg seperti ini… lebih baik pikir ulang, apakah ane emang cocok di saham?

Yang lebih bijak adalah berusaha redam emosi, tantang ulang thesis dan keyakinan anda, menerima kesalahan, dan mau belajar dari kesalahan.

Gitu dude…

2 tanggapan untuk “Psikologi Saham : Investasi Saham Adalah Meredam Emosi”

Investor saham di Indonesia kan baru berapa persen dari jumlah penduduk, apakah ini akan berulang lagi suatu saat nanti? Apakah anda juga bisa mengkategorikan ini sebagai investasi bodong jika tidak ada dasar pegangan buat investor atau yg penting pasang duit saja begitu?

Sangat mungkin berulang. Sudah ratusan tahun seperti itu. Bukan masalah masih sedikit, buktinya di pasar US yg udah lebih mapan pun masih ada yg irasional. Ingat Robin Hood? Ingat Hertz yang lagi proses PKPU tapi sahamnya malah naik tajam? Konon katanya, kalo mo survive di bursa ya harus tetap rasional aja.

Balas

Ada komen, dude?