Home » Investasi Saham » Alasan Bursa Saham Bullish, Potensi Bubble, dan Cara Menyikapinya

Alasan Bursa Saham Bullish, Potensi Bubble, dan Cara Menyikapinya

IHSG kembali melanjutkan rally bulan ini – naik 8.93% MoM – lantas apa alasan bursa saham bullish? Mengapa pasar saham begitu beringas padahal pandemi covid-19 dan kondisi ekonomi dunia masih galau? Kita akan coba bahas sekilas mengenai hal tersebut; Apa alasan bursa saham dunia termasuk IHSG bullish? Apakah kita menuju bubble? Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Alasan Bursa Saham Bullish

Ada beberapa alasan bursa saham bullish – sebagian insight saya dapat dari Memo Howard Marks dengan judul Time for Thinking1 . Berikut ini mungkin bisa menjelaskan kenaikan harga saham atau tepatnya valuasi saham yang semakin tinggi :

  1. Suku bunga rendah.
  2. Stimulus pemerintah nyaris setiap negara (seperti) tidak ada habisnya.
  3. Saham teknologi yang bisa tumbuh cepat dengan pasar global.
  4. Ekspektasi pelaku saham yang tinggi.
  5. Pelaku saham semakin banyak.

Sebelum kita membahas satu per satu alasan bursa saham bullish, kita akan bahas dua penyebab utama harga saham naik.

Dua Pemicu Harga Saham Naik

Ingat, kenaikan saham setidaknya bisa karena dua hal : kinerja meningkat dan valuasi meningkat. Bila suatu emiten kinerja labanya meningkat dan valuasi tetap, maka harga sahamnya akan naik dengan sendirinya. Misalnya tahun ini laba bersih 100, Price-to-Earnings Ratio (PER) 15x maka harganya 1500. Tahun berikutnya laba bersih naik menjadi 120, maka dengan valuasi nilai wajar yang tetap – PER 15x – harga saham naik menjadi 1800.

Tapi harga saham bisa juga naik karena valuasi saham tersebut yang naik. Dengan kata lain, laba bersih tetap tapi valuasi naik. Misalnya eps (earning per share) 100, sebelumnya valuasi PER 10x harga saham 1000, jika valuasi sahamnya naik misalnya PER 20x maka harga saham menjadi 2000.

Baiklah, sekarang kita akan mulai bahas lima alasan bursa saham bullish.


Alasan Bursa Saham Bullish #1 : Era Suku Bunga Rendah

Apa hubungannya suku bunga rendah dengan pasar saham?

Alasan pertama adalah semakin rendah suku bunga, semakin murah beban bunga yang harus dibayar oleh perusahaan. Pemilik perusahaan dan manajemen menjadi merasa lebih yakin dan mampu untuk mengambil (lebih banyak) pinjaman guna memodali bisnisnya karena murahnya biaya bunga pinjaman.

Alasan kedua. kapitalis akan selalu mencari tempat yang menjanjikan return optimal. Ini berarti, jika aset A menjanjikan return 5% sedangkan B 8% – asumsi risiko sama atau kedua return telah adjusted terhadap risikonya – maka sudah barang tentu kapitalis akan memilih aset B.

Bond Yield dan Earning Yield

Lalu apa hubungannya dengan keadaan saat ini? Kenapa jadi alasan bursa saham bullish?

Suku bunga rendah telah menyebabkan ekspektasi stock market yield berubah. Indonesia Government Bonds Yield saat ini adalah 6.056% 2. Jika kita konversikan ke dalam saham, ini seperti Earning Yield yaitu Earning (Laba Bersih) : Market Price (Harga Saham). Emiten dengan eps (earning per share) 8 dan harga pasar 100, ini sama dengan earning yield 8% ( 8/100 * 100%).

Dengan cara berpikir seperti ini, kapitalis akan cenderung memilih return atau yield terbesar yaitu emiten A dengan earning yield 8% ketimbang Indonesia Government Bond dengan yield “hanya” 6.056%.

Lebih jauh, Earning yield (Earning/Price) adalah kebalikan Price-to-Earnings Ratio (Price/Earning). Earning yield 8% – seperti contoh emiten A tadi – setara dengan PER 12.5x (100/8). Contoh lain, katakan emiten B Earning 50 dan Price 1000, maka untuk emiten B valuasinya adalah earning yield 5% (50/1000) dan PER 20x (1000/20).

Apa kesimpulannya?

Jika yield Bond sebagai pembanding semakin rendah, maka ekspektasi investor terhadap yield saham juga semakin turun. Karena yield berbanding terbalik terhadap PER, maka PER juga semakin tinggi. Jika yield bond 10% maka investor akan menolak investasi pada saham dengan yield 8% atau bahkan 10% (karena risiko saham lebih besar dari bond). Tapi karena yield bond trendnya turun, maka yield saham yang lebih rendah pun menjadi menarik. Inilah salah satu alasan bursa saham bullish. Walau pun valuasi saham semakin tinggi, tetap ada yang berani untuk berinvestasi karena asset class lain returnnya jauh lebih rendah.

Too much money chasing too few deals.

Howard Marks

Suku Bunga Negatif

Kalau tadi kita pakai contoh Government Bond Indonesia, bagaimana dengan negara lain. Lihat tabel berikut.

World Government Bond Yield. Tidak sedikit Bond Pemerintah dengan yield negatif. 2

Berdasarkan tabel, tidak sedikit Government Bond beberapa negara saat ini memberikan yield negatif. Investor yang selama ini menempatkan dananya pada instrumen investasi bond tentunya tidak akan puas dengan yield negatif. Mereka mencari asset class lain dengan potensi yield lebih baik.

Jika pembandingnya adalah negatif, maka nol saja seharusnya lebih baik? Sebagai catatan, earning yield 1% pada saham setara dengan PER 100x!

Alasan Bursa Saham Bullish #2 : Stimulus Pemerintah

Tiap negara mengalokasikan dana stimulus yang tidak kecil demi mengantisipasi efek ekonomi dari pandemi covid-19. Faktanya negara-negara di dunia kompak mengalami resesi ekonomi tahun ini, keadaan ini sudah termasuk bantuan stimulus yang porsinya bahkan lebih besar dari krisis finansial tahun 2008 menurut Laporan Riset McKinsey. 3 Data McKinsey per Juni 2020, secara total stimulus covid-19 berbagai negara jumlahnya $10 triliun. Apa jadinya jika tidak ada stimulus dari negara?

Stimulus ekonomi berbagai negara jauh lebih besar dari stimulus saat krisis finansial tahun 2008. 3


Alasan Bursa Saham Bullish #3 : Saham Teknologi Tumbuh Tanpa Batas

Ada beberapa argumen terkait kekuatan saham teknologi yang menjadi alasan mereka layak mendapat harga super premium. Pertama, beberapa perusahaan teknologi sebetulnya sudah jauh lebih untung dari yang kita pikirkan. Tetapi mereka masih ingin merebut pasar yang lebih besar, sehingga mereka mengorbankan profit saat ini, demi merebut pangsa pasar yang lebih luas. Artinya, seandainya mereka sudah cukup puas dengan pangsa pasar yang ada, Laporan Keuangan mereka akan mencatat laba bersih yang jauh lebih tinggi.

Alasan kedua, perusahaan tradisional secara alami memiliki banyak keterbatasan untuk tumbuh. Namun hal ini bukan hambatan bagi perusahaan teknologi. Mereka dapat menawarkan produk dan jasanya secara global secara cepat – thanks to internet. Pandemi covid-19 juga telah mengakselerasi adopsi banyak orang terhadap dunia digital.


Alasan Bursa Saham Bullish #4 : Ekspektasi Pelaku Saham Yang Tinggi

Jika kita diskusi dengan para investor saham lainnya, kita kemungkinan besar akan mendapatkan hal yang mirip. Ketika kita bertanya, “Kok berani beli saham A, padahal kalo liat LK ancur2an. Pendapatan anjlok, malah tahun ini rugi?”

Jawabannya biasanya, “Itu kan udah lewat. Masa terburuk udah selesai, ke depan hanya tinggal yang bagus-bagus. Recovery cepat lho ini, V Shape katanya.”

Pada dasarnya investor saham saat ini membeli harapan (atau hype?) – yang pokoknya serba baik dan positif.

Robert Shiller juga menulis tentang ini, dalam artikel Making Sense of Sky-High Stock Prices4. Bahwa narasi mempengaruhi psikologi investor saham yang pada akhirnya akan membuat valuasi saham semakin tinggi. Contohnya V-shaped recovery narrative dan FOMO (fear of missing out) narrative.


Alasan Bursa Saham Bullish #5 : Pelaku Saham Semakin Banyak

Menurut berita Bisnis.com5, Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, per 19 November 2020 jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah mencapai 1.503.682 akun. Bertambah 417.366 single investor identification (SID) baru atau naik 28 persen sepanjang 2020.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 19 November 2020, jumlah investor pasar modal yang tercatat mencapai 3,53 juta investor, yang mana 42,6 persen atau 1,50 juta di antaranya merupakan investor saham dan sisanya investor reksa dana dan obligasi.

Jumlah Sub Rekening Efek C-BEST KSEI September 2019 – November 2020 6

Ada yang unik, perhatikan infografik berikut.

Jumlah Investor Pasar Modal Indonesia Tahun 2013-2017. 7

Tahun 2016, jumlah investor pasar modal Indonesia melonjak 106%! Tahun 2015 adalah tahun suram dunia pasar modal dan tahun 2016 ketika pasar saham bullish, banyak orang mencoba peruntungan.

Hal yang sama kembali terjadi saat ini. Sejak awal tahun, rekening investor saham yang tercatat di KSEI telalh tumbuh 28%. Demikian juga yang terjadi di Amerika Serikat, yang terkenal dengan Robinhood. Tentunya semakin banyak pelaku saham, sebagian besar amatir dan awam, apalagi jika sebagian besar punya ekspektasi tinggi, tentunya ini bisa jadi alasan bursa saham bullish saat ini. Tengok saja berita tentang Robinhood Investors.

Robinhood Investors Meme : Is Warren Buffett overhyped?8

Potensi Bubble Pasar Saham

Tidak ada yang pernah tahu kapan crash atau bubble pasar saham terjadi. Tapi berikut ini beberapa hal yang mungkin patut untuk kita pertimbangkan dan cermati.

Tentang Suku Bunga Rendah

Ini salah satu pandangan dari CEO DBS Piyus Gupta.

CEO DBS SINGAPURA : DEFAULT DAN SUKU BUNGA RENDAH JADI TANTANGAN BESAR DI 2021.


Kepala Eksekutif DBS Singapura Piyush Gupta menilai bank-bank global akan dihadapkan pada dua tantangan utama pada tahun depan. Tantangan yang dimaksudkan yakni meningkatnya default atau gagal bayar dan tingkat suku bunga yang sangat rendah.

Ia tidak menampik dukungan pemerintah di seluruh dunia telah melindungi kerusakan ekonomi akibat pandemi. Akan tetapi, tambahnya, kebijakan yang diambil berpotensi ‘menutupi ukuran permasalahan sebenarnya’ yang dihadapi perusahaan dan rumah tangga. Masalah itu, lanjutnya, akan muncul ketika tindakan dukungan dibatalkan.

“Jadi saya pikir kita akan melihat peningkatan dalam default atau gagal bayar dan pelanggaran di seluruh dunia pada tahun depan,” kata Gupta, seperti dilansir dari CNBC, Selasa, 8 Desember 2020.

IQPLUS9

Berita tentang NPL bank-bank di Indonesia jika tidak ada restrukturisasi akan banyak anda temui. Misalnya saja seperti berita Kontan berikut.

 Sampai 2 November 2020, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai restrukturisasi mencapai Rp 934,8 triliun yang berasal dari 7,6 debitur, ini setara 17,04% dari nilai penyaluran kredit sampai Oktober 2020 senilai Rp 5.484,9 triliun. 

Kontan10

Tanpa restrukturisasi utang bank, NPL bank sejatinya sudah dua digit. Tapi bukankah restrukturisasi utang hanya memperpanjang napas saja? Masalahnya sendiri masih ada (bank belum mendapatkan kembali piutang/kreditnya, pengusaha/peminjam/kreditur masih harus mengembalikan utangnya).

Credit Crunch

Masalah kedua. Sampai kapan era suku bunga rendah (bahkan minus) ini dapat bertahan? Saya belum bisa membayangkan suku bunga negatif akan sustain, bagaimana mungkin bisa sustain?

Maka bagaiman nanti jika suku bunga naik? Perusahaan yang saat ini menikmati suku bunga rendah harus membayar lebih mahal. Perorangan yang ambil KPR saat ini bunga rendah, suatu saat harus membayar cicilan bunga lebih tinggi. Hal ini dapat menimbulkan credit crunch.

Hal yang sama terjadi sewaktu dot com bubble.

Pecahnya dot com bubble dan hubungannya dengan suku bunga.11

Tentang Stimulus Pemerintah

Ekonomi dan kehidupan banyak orang di berbagai negara sangat terbantu oleh adalah stimulus yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah. Tentu saja kita selayaknya bertanya, misalnya : Sampai kapan? Dari mana uang pemerintah, jika dari utang bagaimana negara melunasi utang tersebut? Jika menerbitkan uang baru, bagaimana efeknya terhadap inflasi? Sampai kapan cetak uang akan dapat kita lakukan tanpa ada efek negatif? Jika stimulus terhenti, sejauh apa efeknya terhadap ekonomi?

Tentang Perusahaan Teknologi

Jika perusahaan teknologi memutuskan berhenti memperluas market share (baca : bakar duit), bagaimana bila ternyata kompetitor terus membakar duit. Ada kompetitor baru lagi yang baru saja mendapatkan modal dari Venture Capital? Kapan ini akan selesai?

Bukankah awal pandemi Softbank sempat kesulitan? Ingat, Venture Capital juga butuh return suatu saat nanti. Mereka bukan malaikat yang rela bakar duit terus menerus. Apakah valuasi setinggi langit akan terbukti valid? Sebut saja valuasi Tesla, Snowflake, DoorDash, dan Airbnb.

Tentang Ekspektasi Investor Saham Yang (Terlalu) Optimis

Tidak salah berpikir seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Melihat masa depan. Justru kalau kita bisa melihat sisi lain yang orang lain tidak bisa lihat, itulah insight, itulah second level thinking. Ketika yang lain terfokus pada yang buruk, anda melihat memang buruk tapi tidak seburuk yang orang lain pikirkan dan harga sahamnya sudah turun terlalu dalam, tidak seburuk itu kondisi emitennya, dude!

Masalahnya apa dong, dude?

Masalahnya adalah…. anda tidak sendiri. Sebagian besar orang berpikir seperti anda. Dan harga sahamnya tidak turun lebih dalam dari kondisi fundamental emitennya, malah sebaliknya harga saham sekarang sudah banyak yang mendahului kinerja bisnisnya di dunia riil.

Kalau semua berpikir optimis dan harga sahamnya mendahului kinerja…. lantas dari mana anda bisa cuan? Bagian mana ada unsur second level thinking-nya?

Tabel Tahap Perkembangan Bubble Pasar Saham

Berikut tabel yang menunjukkan tahap perkembangan Bubble dari buku Trading on Sentiment : The Power of Minds Over Markets by  Richard L. Peterson.

Bubble Staging Checklist 12

Apakah ada kemiripan dengan kondisi saat ini? Dari fundamental trigger, ekspektasi investor saham, jumlah investor saham (terutama partisipasi para amatir), dan lain-lain? Saya serahkan kepada masing-masing untuk menilainya.

Berikut ini masih dari buku yang sama.

Brief History of Bubble12

Rasanya sering kita dengar “dongeng” ini. Ketika para amatir – contoh yang dipakai supir taksi, tukang semir sepatu, bahkan pengemis – merasa sudah menguasai pasar saham, lebih pakar dari pakar… saat itulah kita seharusnya makin waspada.

Dan ini kira-kira secara ringkas tentang bubble di bursa saham.


Suka artikel ini? Masukkan email untuk mendapatkan artikel terbaru via email. NO SPAM.


Apa Yang Harus Kita Lakukan

Apa sebaiknya yang kita lakukan? Sebelumnya saya telah menuliskan Pelajaran Dari Crash Bursa Saham Global Maret 2020. Apa yang saya tulis, saya rasa juga berlaku untuk kasus ini.

Beberapa yang mungkin dapat ditekankan sekali lagi :

  1. Hindari FOMO (Fear Of Missing Out). Ketika kita mulai serakah dan FOMO, ingat saja pesan Opa

    What the wise man does in the beginning, the fool does in the end.

    Warren Buffett
  2. Pasar bearish masih ada saham yang mahal. Sebaliknya pasar bullish masih ada saham yang layak investasi.
  3. Pertimbangkan Barbell Strategy.
  4. Sebagai value investor, tentunya yang paling logis adalah tetap berpegang pada pendekatan value investing. Namun mungkin yang perlu kita sesuaikan lagi adalah ekspektasi kita. Mengutip Howard Marks :

    There’s a big difference between one that’s priced for perfection and one that allows for bad outcomes.

    Howard Marks
    Jadi pertanyaannya ketika melakukan valuasi, faktor apa saja yang anda sertakan? Ekspektasi anda setinggi/serendah apa? Apakah anda telah menyisakan ruang untuk kemungkinan terburuk?
  5. Menjual saham dengan alasan agar bisa tampung lagi di harga lebih rendah, mengantisipasi crash atau singkatnya timing the market adalah kesalahan. Jangan pernah timing the market. Kembali ke poin empat, sebaiknya stick to value investing.

Referensi

  1. Memos from Howard Marks.
  2. worldgovernmentbonds.com.
  3. The $10 trillion rescue: How governments can deliver impact. McKinsey.
  4. Making Sense of Sky-High Stock Prices – Robert Shiller.
  5. Wihh Jumlah Investor Saham Tembus 1,5 Juta Orang.
  6. Jumlah Sub Rekening Efek di C-BEST.
  7. Tipisnya Jumlah Investor Pasar Modal Indonesia.
  8. Robinhood investors after outperforming the boomer fund managers.
  9. CEO DBS Singapura : Default dan Suku Bunga Rendah Jadi Tantangan Besar di 2021.
  10. Restrukturisasi kredit terimbas pandemi diklaim terkendali.
  11. Dot-com bubble – Bursting of the bubble
  12. Trading on Sentiment : The Power of Minds Over Markets by  Richard L. Peterson.

Sekian dude. Seperti biasa, kalo ada masukan, opini atau koreksi, silakan komen. Kalo tulisan ini berguna, bantu sebarkan dude 😀

Sebagai pengingat, tulisan ini bukanlah saran atau rekomendasi, hanya opini dan pandangan saya secara pribadi. Keputusan investasi tetap di tangan masing-masing.

Ada komen, dude?