Kategori
Analisis Fundamental Dividen

Emiten Bagi Dividen 100% Laba Bersih, Capex Dari Mana?

Salah satu tipe perusahaan yang ideal adalah perusahaan yang mampu mencetak arus kas bebas secara konsisten bertahun-tahun. Arus kas bebas atau Free Cash Flow (FCF) tersebut bisa dibagikan menjadi dividen tanpa mengganggu bisnis perusahaan atau untuk ekspansi bisnis jika ada kesempatan.

Beberapa waktu yang lalu, ada yang bertanya di grup telegram Stock Investment Circle : “Emiten bagi dividen 100% laba bersih, capex dari mana ya?”

Jawaban singkatnya, di Laporan Laba Rugi atau Income Statements (IS) ada beban depresiasi (penyusutan aset tetap), Laba Bersih sudah dikurangi beban depresiasi tersebut. Jika emiten membagikan dividen 100% Laba Bersih (DPR 100%) maka untuk maintenance capital expenditure (capex) sudah ada budgetnya.

Tentang Depresiasi dan Capex Pemeliharaan

Jawaban agak panjangnya :

  1. Laporan Laba Rugi basisnya adalah akrual. Selama memenuhi syarat PSAK, maka pendapatan dan beban bisa diakui, bentuknya bisa cash atau non cash. Penjualan sudah dapat diakui walau pun masih dalam bentuk piutang asalkan memenuhi PSAK 23 Pendapatan. Depresiasi juga pengakuan non cash. Contohnya emiten beli mobil cash 200 juta, ini tidak langsung seluruhnya dibebankan di IS meski sudah keluar uang tunai 200 juta. Karena umurnya bisa mencapai 5 tahun, maka tiap tahun yg dibebankan (depresiasi) misalnya adalah 40 juta. Setelah 5 tahun, mobil tersebut nilainya nol, tapi ingat seharusnya emiten ada “tabungan” 200 juta. Inilah yang nantinya bisa dipakai untuk capex pemeliharaan.
  2. Jika mayoritas pendapatannya dalam bentuk cash dan depresiasi konservatif, seharusnya emiten yang bagi dividen 100% laba bersihnya akan self-sustain karena dana untuk capex maintenance sudah ada budgetnya tiap tahun. Jika butuh belanja modal pemeliharaan, emiten sudah siap.
  3. Perusahaan bisa mencatat Pendapatan dan Laba Bersih yang besar, tapi cash sedikit misalnya karena pendapatannya mayoritas dalam bentuk piutang usaha (atau pengakuan non cash lainnya). Ada juga emiten yang pencadangannya (depresiasi) sangat kurang, sehingga ketika harus reparasi atau mengganti aset tetap yang rusak, belanja modal melebihi depresiasi.

Nah terutama karena poin 3 maka kita juga harus melihat Laporan Arus Kas emiten.

Apa Itu Free Cash Flow?

Free Cash Flow (FCF) atau arus kas bebas adalah kas yang berasal dari arus kas operasional dikurangi capex. Sederhananya total kas yang dihasilkan dari operasional dikurangi semua biaya operasional dan belanja modal.

Salah satu tipe perusahaan yang ideal adalah perusahaan yang mampu mencetak arus kas bebas secara konsisten bertahun-tahun. FCF tersebut bisa dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen tanpa mengganggu bisnis perusahaan atau untuk ekspansi bisnis jika ada kesempatan (misalnya akusisi, tambah pabrik baru, dan lain-lain).

Ada ratio yang menggunakan FCF yaitu Free Cash Flow Yield untuk valuasi saham. Yaitu membandingkan FCF dengan harga sahamnya. Mirip dividend yield, andai DPR 100% maka Dividend Yield dan FCF Yield nilainya akan mirip.

Besar FCF dan Laba Bersih bisa berbeda karena beberapa alasan. Misalnya FCF sudah memperhitungkan capex (ingat, di IS tidak ada capex karena pembelian aset tetap belum dibebankan, yang ada di IS hanya depresiasi) dan juga perubahan modal kerja (Working Capital). Laba Bersih juga bisa dalam bentuk piutang, sedangkan di FCF hanya cash.


Suka artikel ini? Masukkan email untuk mendapatkan artikel terbaru via email. NO SPAM.


Kinerja UNVR : Dividen, Capex, dan Free Cash Flow

Diskusi di grup kemudian berkembang dan muncul nama UNVR (PT Unilever Indonesia Tbk). Karena UNVR memang salah satu emiten yang terkenal royal bagi dividen.

Sejujurnya, saya belum pernah riset UNVR secara mendalam. Tapi karena pembahasan di grup tadi, saya jadi iseng mencoba lihat hubungan dividen, FCF, capex, dan lain-lain dari UNVR. Berikut hasil coretan saya.

Beberapa hal yang menarik dari tabel di atas :

  1. UNVR royal dividen. DPR tiap tahun nyaris 100% bahkan tidak jarang lebih dari 100%.
  2. UNVR termasuk emiten yang spesial. Sangat jarang kita temukan emiten yang konsisten bertahun-tahun menghasilkan FCF positif. Mencari emiten yang konsisten cetak Arus Kas Operasional saja sulit, UNVR malah FCF selalu positif. Sejak 2008-2019 FCF UNVR selalu positif, nilainya dari 2.3T tahun 2008 menjadi 7.2T tahun 2019. Total FCF 2008-2019 adalah 64.5T.
  3. Arus Kas Operasional konsisten lebih besar dari Laba Bersih. Ini juga menarik.
  4. Saya coba hitung FCF – Dividen (lihat baris 15, 17, dan 27). Saya mau melihat, apakah setelah dikurangi dividen, masih ada kas tersisa? Hasilnya ternyata tidak. Setiap tahun, FCF – Dividen UNVR selalu negatif. Hanya di tahun 2018 saja positif. Tapi patut diingat, tahun 2018 UNVR divestasi divisi spread dan mendapatkan uang sekitar 3T.

Menghitung FCF – Dividen UNVR

Kenapa FCF – Dividen selalu minus? Bukannya tadi dijelaskan bahwa Laba Bersih sudah menghitung depresiasi? Harusnya UNVR sudah ada budget untuk capex?

Karena penasaran, saya coba lihat depresiasi UNVR tiap tahun dan coba bandingkan dengan capexnya. Berikut hasilnya :

Hasilnya, ternyata tiap tahun Capex UNVR selalu lebih besar dari Depresiasi. Bisa disimpulkan, UNVR selama ini tidak hanya mengeluarkan capex maintenance namun juga capex ekspansi. Hal ini selanjutnya saya konfirmasi dengan membaca Annual Report UNVR, memang benar ada ekspansi baik menambah kapasitas terpasang, produk baru, gudang baru, pabrik baru, dan lain-lain.

Satu lagi yang menarik dari tabel di atas adalah “Disusutkan penuh namun masih digunakan” nilainya selalu naik. Ini adalah aset tetap yang nilai bukunya sudah nol namun masih digunakan. Ini bisa berarti, pengakuan depresiasi UNVR cukup baik.

Jika UNVR hanya mengeluarkan capex pemeliharaan, seharusnya walau bagi dividen DPR 100% UNVR masih bisa self-sustain.

Capex UNVR Dibiayai Dari Mana?

Tapi seperti kita lihat di atas, faktanya UNVR masih ekspansi, sehingga FCF – Dividen selalu negatif.

Kembali ke pertanyaan awal tadi, “Capexnya dari mana?”

Sejak 2008-2019 kita lihat, total FCF 58.4T sedangkan total dividen 64.5T, alhasil UNVR nombok 6.1T. Dari mana 6.1T ini? Ya sudah jelas, dari utang. Kalau dilihat arus kas pendanaan dan juga di Neraca, UNVR memang sering ambil pinjaman bank. Ini artinya capex ekspansi dibiayai utang, sementara UNVR bagi dividen rata-rata nyaris DPR 100%, bahkan sesekali DPR > 100%.

Tentunya yang menjadi pertanyaan, jika FCF – Dividen selalu minus, ke depan apakah utang UNVR semakin menumpuk? Sampai kapan UNVR mampu bagikan dividen dengan DPR 100%?


Tentang Dividen dan Capital Gain UNVR

Sedikit melebar, mumpung lagi buka UNVR, sekalian saya mau lihat kinerja historisnya. Sebelumnya saya menulis tentang Dividend For Living – Apa Mungkin Hidup Dari Dividen? Perhatikan tabel di atas. Dividen UNVR sejak 2008-2019 rata-rata selalu tumbuh (2018 ada divestasi spread 2018, harus disesuaikan). Penjualan dan laba bersihnya juga masih tumbuh, mungkin salah satunya akibat UNVR masih ekspansi.

Jika dibandingkan dengan target dividend growth 10% di artikel sebelumnya, UNVR lebih tinggi returnnya. Ditambah capital gain. Jika anda investasi UNVR sejak 2007, maka saat ini telah mendapatkan Dividend Yield 15.36%, total return dari dividen 101.65%, dan capital gain 422.73%. Berarti total return 524% dan potensi Dividend Yield 15%.


Disclaimer : Saya tidak memiliki saham UNVR dan tidak ada rencana untuk berinvestasi di UNVR dalam waktu dekat. Artikel ini bukan rekomendasi UNVR melainkan contoh saja.

Ada komen, dude?